Lepas Santri SMK untuk PKL, Pesantren Sultan Hasanuddin Tekankan Integrasi Keahlian Kerja dan Akhlakul Karimah

GOWA – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pesantren Sultan Hasanuddin secara resmi melepas belasan santri dan santriwati untuk mengikuti program Praktik Kerja Lapangan (PKL) tahun ajaran berjalan. Acara pelepasan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran pimpinan pondok pesantren, kepala sekolah, para guru pembimbing, serta seluruh santri peserta PKL yang siap diterjunkan ke berbagai dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Dalam foto bersama yang diabadikan di depan gedung madrasah, tampak para santri putra dan putri mengenakan jas almamater berwarna merah menyala dipadukan dengan bawahan abu-abu. Santri putri tampil anggun dengan jilbab abu-abu yang seragam, sementara para guru dan pengurus pesantren berdiri mendampingi di lini belakang dengan pakaian batik khas, mencerminkan sinergi yang kuat antara pendidik dan peserta didik.
Program PKL ini dirancang bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan kurikulum vokasi nasional, melainkan sebagai wadah pembuktian bahwa santri mampu bersaing di sektor profesional tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Di tengah latar belakang spanduk "Selamat Datang Calon Santri Baru" dan "Selamat dan Sukses Ujian Madrasah Berbasis CBT", momentum ini menandai langkah krusial transisi santri dari lingkungan teori menuju realitas dunia kerja.
Kepala SMK Pesantren Sultan Hasanuddin dalam arahannya menekankan bahwa tantangan di luar pesantren akan menguji dua hal sekaligus: kompetensi teknis (hard skills) dan ketahanan moral (soft skills).
"Kalian membawa nama besar Pesantren Sultan Hasanuddin. Di tempat PKL nanti, tunjukkan bahwa kalian tidak hanya cakap dalam mengoperasikan teknologi atau menyelesaikan tugas-tugas industri, tetapi juga unggul dalam kedisiplinan, kejujuran, dan etika berkomunikasi. Jaga salat lima waktu, jaga pandangan, dan jadilah cerminan santri yang berakhlak mulia di tempat kerja," ujarnya di hadapan para peserta.
Berbeda dengan siswa SMK pada umumnya, santri yang menjalani PKL memiliki nilai tambah berupa internalisasi nilai-nilai pesantren, seperti kemandirian, ketundukan pada aturan, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan baru. Karakter-karakter inilah yang sering kali menjadi daya tarik tersendiri bagi pihak industri.
Para peserta PKL dijadwalkan akan mengabdi dan menimba ilmu di berbagai instansi mitra selama beberapa bulan ke depan. Selama periode tersebut, mereka akan dipantau secara berkala oleh guru pembimbing guna memastikan capaian kompetensi kerja serta konsistensi ibadah mereka tetap terjaga dengan baik.
Acara pelepasan diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan, kelancaran, dan keberkahan para santri selama menjalankan tugas di lapangan, ditutup dengan sesi dokumentasi bersama yang memancarkan optimisme tinggi dari wajah-wajah masa depan bangsa dan agama ini.